Guru Profesional dalam Merespon Perubahan Zaman
Surakarta-Dalam rangka meningkatkan kompetensi Guru Agama, Direktur Bimbingan Masyarakat Katolik mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada empat puluh enam guru agama Katolik baik Pegawai Negeri mapun swasta selama lima hari (1-5/9) di hotel Harris Solo Jawa Tengah. Peserta yang hadir merupakan utusan dari berbagai provinsi yang ada di pulau Jawa antara lain, Provinsi DKI Jakarta lima orang guru, Banten mengirimkan dua peserta, Jawa Barat terdiri dari lima guru, Jawa Tengah delapan orang guru, Daerah Istimewa Yogyakarta delapan peserta serta Jawa Timur mengirimkan peserta atau guru paling banyak yaitu lima belas orang.Tema yang diusung adalah Dengan Bimtek, Kita Tingkatkan Kompetensi Guru Pendidikan Agama KAtolik di Indonesia.
Direktur Bimas Katolik, Drs Eusabius Binsasi baik pada saat menyajikan materi tentang Visi Misi Ditjen Bimas Katolik di Bidang Pendidikan Agama memaparkan bahwa ada tiga komponen yang paling utama dalam penyelenggaraan proses pendidikan, yaitu Guru, murid, dan sarana. Perihal keberadaan guru, Dirjen asal Nusa Tenggara Timur tersebut banyak membagi pengalamannya sebagai guru dan inspirasi yang didapatkannya ketika melakukan perjalanan dinas keliling Indonesia.Ada beberapa hal penting yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Katolik dalam meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru. Kedua berupa ajakan kepada guru agama Katolik untuk terus memperdalam dan menyesuaikan kompetensinya agar mampu menjawab tuntutan masyarakat dan tuntutan zaman . “Kita lulus kuliah sekitar tahun 1990 an harus mengajar anak-anak pada tahun 2018 sehingga mereka bisa hidup pada tahun 2030”. Menghadapi kondisi demikian guru harus profesional dalam menyikapi perubahan.
Lebih lanjut, Dirjen menyampikan bahwa tujuan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara serta meningkatkan iman dan ketakwaan peserta didik. Oleh karena itu penyelenggaraan Pendidikan Agama Katolik di sekolah harus tetap menjaga keseimbangan unsur pengetahuan (knowledge) (kognitif), afektif yang berkaitan dengan sikap dan nilai, serta psikomotor yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.Problem yang terasa saat ini adalah minimnya pengetahuan anak-anak tentang hal-hal seputar iman Katolik, terutama kemampuan mempertanggungjawabkan imannya secara kognitif.Banyak harapan yang diletakkan dan dipercayakan kepada anak-anak.Apakah mereka nanti akan mati sebagai martir atau mati sebagai orang bodoh ?
Direktur Pendidikan Katolik, Fransiskus Endang, SH, MM kembali mempertajam visi dan misi tersebut melalui Kebijakan Pemerintah di Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Katolik. Beberapa kebijakan yang disebutkan antara lain, pembentukan taman Seminari, kebijakan tentang Perguruan Tinggi yang memyiapkan calon guru agama Katolik (Sekolah Tinggi Pastoral) serta konsep pelayanan Bimbingan Masyarakat Katolik. Durasi waktu yang tersedia selama 120 menit ini juga digunakan sebagai kesempatan untuk mendengarkan berbagai masukan atau informasi dari para guru tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun persoalan-persoalan lain yang berkaitan dengan kapasitasnya sebagai guru agama Katolik.
Penulis : John Lobo, Guru SMA Negeri 3 Kediri
Berita yang direkomendasi
-
Kolaborasi Gerakan Literasi Melalui Pustaka Bebas Bea
Mojokerto-Penggagas Gerakan Katakan dengan Buku (GKdb) John Lobo Selas..
-
Buku untuk Tulang Bawang
Tulang Bawang.Lampung-Taman baca Ceria (Cerdas dan Gembira) yang terle..
-
Geliat Literasi dari Lekosoro
Bajawa.Flores- Pegiat literasi sekaligus pengelola taman baca Ratu Dam..
-
Tips Sukses Public Speaking Dari Divisi Humas Polri
Jakarta - Komunikasi publik atau public speaking adalah..



